Definisi
Gonore dalam arti luas mencakup semua penyakit yang disebabkan oleh Neisseria gonorrheae (Daili, 2005). Gonore merupakan infeksi menular seksual yang ditandai dengan infeksi mukosa, terutama mukosa genital oleh N. gonorrhoeae (Sparling, 2005) Raja Singa atau Sifilis merupakan infeksi kronis, yang dapat menyerang semua alat-alat dalam badan dan dapat ditularkan dari ibu ke janin. Penyebabnya adalah Treponema Palidum, suatu kuman yang berbentuk sprial dan dapat bergerak dengan sangat lincah..


Epidemiologi
Data WHO menunjukkan insiden gonore antara 62 juta kasus baru pada 1995 sebagian berasal dari Asia Selatan dan Asia Timur, Amerika Selatan dan Amerika Tengah. Prevalensi pada negara-negara maju adalah sepersepuluh dibandingkan negara berkembang. Di Indonesia data dari Depkes RI tahun 1997-1998 didapatkan infeksi gonore sebanyak 13.000 kasus pada tahun 1997 dan 20.420 kasus pada tahun 1998 (Safitri, 2007). Beberapa faktor predisposisi tingginya angka kejadian gonore antara lain tingkat penularan yang tinggi, masa inkubasi yang pendek, tingkat karier asimtomatis yang tinggi, tidak adanya imunitas protektif, meningkatnya resistensi terhadap antibiotik dan perubahan prilaku seksual (Sumaryo, 2006)

Etiologi
Penyebab gonore adalah kuman yang ditemukan oleh Neisser pada tahun 1879 dan baru diumumkan pada tahun 1882 yaitu N. gonorrhoeae. Neisseria gonorrhoeae atau gonokokus merupakan kuman berbentuk biji kopi dengan panjang 1,6 um dan lebar 0,8 um, bersifat tahan asam. Pada sediaan langsung dengan pewarnaan Gram bersifat negatif Gram, terlihat diluar dan di dalam leukosit, tidak tahan lama di udara bebas, cepat mati dalam keadaan kering, tidak tahan suhu diatas 390C dan tidak tahan zat desinfektan (Daili, 2005).

Neisseria gonorrhoeae secara antigenik bersifat heterogen dan dapat mengubah struktur permukaannya secara invitro, mungkin juga invivo, untuk menghindari pertahanan inang. Struktur permukaan itu antara lain:

a. Pili
Pili adalah alat mirip rambut yang menjulur keluar beberapa mikrometer dari permukaan gonokokus. Pili sangat berperan penting dalam proses patogenesis penyakit. Pili membantu perlekatan pada sel inang dan resistensi terhadap fagositosis (Jawetz dkk, 1996)

b. Por (Protein I)
Por menjulur dari selaput sel gonokokus yang fungsinya sebagai tempat masuknya beberapa nutrien kedalam sel. Setiap strain gonokokus hanya memiliki satu tipe Por, tetapi Por dari strain-strain lain secara antigenik berbeda (Jawetz dkk, 1996).

c. Opa (Protein II)
Protein ini berfungsi untuk perlekatan gonokokus didalam koloninya dan perlekatan gonokokus pada sel inang. Salah satu bagian molekul Opa terdapat pada selaput luar gonokokus dan sisanya terdapat dipermukaan (Jawetz dkk, 1996).

d. Rmp (Protein III)
Rmp merupakan suatu protein reduksi yang dapat dimodifikasi dan mengalami perubahan pada berat molekulnya ketika dalam keadaan tereduksi. Protein ini bekerja sama dengan Por dalam pembentukan pori-pori pada permukaan sel (Jawetz dkk, 1996).

e. Lipooligosakarida (LOS)
LPS gonokokus tidak mempunyai rantai samping antigen O yang panjang dan kadang-kadang disebut polisakarida. Gonokokus dapat memiliki lebih dari satu rantai LPS yang berbeda antigennya secara serentak. Racun dalam infeksi gonokokus terutama disebabkan oleh pengaruh endotoksik LPS (Jawetz dkk, 1996).

f. Protein Lain
Lip (H8) merupakan suatu protein pada permukaan terbuka yang dapat diubah oleh panas. FBP (Protein yang terikat besi) dihasilkan bila pasokan besi terbatas (Jawetz dkk, 1996).

Patogenesis
Untuk dapat melakukan proses infeksi, bakteri harus melekat pada mukosa. Pili melekat lebih kuat pada epitel kubus dan silindris dibanding epitel skuamosa, dimana N. Gonorrhoeae hanya melekat pada sel epitel yang tidak besilia (Safitri, 2007).

Pada umumnya infeksi primer dimulai pada epitel slindirs dari uretra, duktus periuretralis atau beberapa kelenjer sekitarnya. Kuman juga dapat masuk lewat mukosa servik, konjungtiva atau rektum. Kuman menempel dengan pili pada permukaan sel epitel atau mukosa. Pada hari yang ke tiga, kuman mencapai jaringan ikat yang dibawah epitel, setelah terlebih dahulu menembus ruang antar sel. Selanjutnya terjadi reaksi radang berupa infiltrasi leukosit polimorfnuklear. Eksudat yang terbentuk dapat menyumbat saluran atau kelenjer sehingga terjadi kista retensi dan abses. Penyebaran ke tempat-tempat lainnya lebih sering terjadi lewat saluran getah bening dari pada lewat saluran darah. Terjadinya kerusakan pada sel epitel oleh gonokokus, menyebabkan terbentuknya celah pada mukosa, sehingga mempermudah dan mempercepat masuknya kuman (Josodiwondo, 1994).

Manifestasi Klinis
Gambaran klinis dan perjalanan penyakit gonore pada wanita dan pria berbeda. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan anatomi dan fisiologi alat kelamin pria dan wanita (Daili, 2007).

Gonore pada pria
Masa inkubasi gonore sangat singkat, pada pria biasanya 2-5 hari, kadang-kadang lebih lama. Tempat masuk kuman pada pria di uretra sehingga menimbulkan uretritis. Yang paling sering adalah uretritis anterior akut. Keluhan subjektif berupa rasa gatal, panas dibagian distal uretra disekitar orifisium uretra eksternum, kemudian disusul disuria, polakisuria, keluar duh tubuh dari ujung uretra berupa mucopurulen atau purulen yang kadang-kadang disertai darah. Selain itu kadang-kadang juga disertai nyeri pada waktu ereksi. (Daili, 2007). (Radcliffe, 1999)

Referat, Makalah:
Lengkap link berikut: Download .doc